BOGOR–Dua jasad terakhir, Zahra Zalyanti (7) dan Dini Novianti (10), korban jembatan ambruk di Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, ditemukan Tim SAR Gabungan, kemarin. Dengan demikian, seluruh korban hanyut yang berjumlah delapan orang itu telah ditemuan. Kedelapan korban tewas itu yakni Ummamah (45), Septiana Rizki Alamsyah (10), Maesaroh (9), Nur Fajar Maulinda (9), Reska Lismanda (10), Rafi Saputra(6), Zahra Zalyanti (7) dan Dini Novianti (10).
Jasad Dini ditemukan sekitar pukul 10:30 oleh anggota SAR Basarnas dan Tagana di belakang PT Tifiko Kebon Nanas, Hulu Sungai Muara Tanjung Burung, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, atau sekitar 60 kilometer dari lokasi Jembatan Cidua.
Saat ditemukan, kondisi korban sulit diidentifikasi karena sudah hancur. Beberapa organ tubuh sudah membiru dan sulit dikenali. Jasad bocah berjenis kelamin perempuan tersebut memakai celana berwarna krem. Setelah dievakuasi, jasad kemudian dibawa ke RSUD Tangerang.
“Kondisinya sudah rusak, mata sudah tidak ada, rambut juga sudah habis, kulit mulai mengelupas dan bengkak. Kami melihat dari jenis pakaian dalam yang digunakan seperti perempuan,” ungkap Koordinator Tim SAR, Budi Aksomo kepada Radar Bogor, kemarin.
Satu jam berselang, tepatnya sekitar pukul 11:30, Tim SAR berhasil menemukan jenazah yang diduga Zahra. Jasad bocah berjenis kelamin perempuan itu ditemukan di hulu Sungai Cisadane, Panunggangan Barat, Kelurahan Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, atau sekitar 70 kilometer dari lokasi Jembatan Cidua. Saat ditemukan, kondisinya juga sudah hancur dan sulit dikenali. Pada tubuh bocah itu ditemukan gelang di tangan sebelah kanan dan memakai baju kuning.
“Kondisi tubuh sudah rusak, dari model pakaiannya diperkirakan perempuan,” ungkap Budi.
Setelah dievakuasi, jasad kedua ini pun langsung dibawa ke RSUD Tangerang untuk diotopsi. Identifikasi dan pengenalan jasad sempat menemui kesulitan. Kondisi jasad yang sudah tak berbentuk membuat Tim Forensik RSUD Tangerang sempat kebingungan.
“Kami sudah mengirimkan anggota beserta dua keluarga korban dan saksi-saksi untuk memastikan apakah ini salah seorang dari delapan korban,” beber Budi.
Akhirnya sekitar pukul 13:00, pihak keluarga korban bersama Tim Forensik RSUD Leuwiliang menjemput jasad kedua gadis tersebut ke RSUD Tangerang.
Humas Badan SAR Nasinonal (Basarnas) Jakarta, Ramli Prasetyo mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan identitas kedua jasad tersebut apakah Dini ataupun Zahra. Tetapi, kata dia, ciri-cirinya mempunyai kemiripan dengan anak berumur sepuluh dan enam tahun.
“Jenazah ditemukan sudah tidak memakai pakaian, hanya celana dalam perempuan,” katanya.
Dia juga mengatakan, dalam proses pencarian hari kelima kemarin, Tim SAR menerjunkan 51 personel yang tergabung dari Tim SAR, Tagana Kota Tangerang, Basarnas, PMI dan Mapala Universitas Syekh Yusuf Tangerang. Penyisiran dilakukan dari hulu hingga muara Sungai Cisadane. Pada pencarian hari kelima ini, tim cukup kesulitan menemukan korban karena aliran Sungai Cisadane beberapa hari terakhir cukup deras akibat hujan. “Debit air meningkat saat hujan, sehingga menyulitkan pencarian,” jelasnya. (yus)
Baca Selanjutnya ...
Minggu, 26 Februari 2012
Rabu, 22 Februari 2012
Pencarian Korban Hanyut Hari Ke 3
BOGOR–Jerih payah Tim SAR Gabungan untuk menemukan seluruh jasad korban hanyut dalam insiden ambruknya Jembatan Cidua di Kampung Pabuarankaum, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, kembali menuai hasil, kemarin.
Kemarin, Tim SAR berhasil menemukan jasad Nur Fajar Maulinda (9) dan Reska Lismanda (10). Tercatat selama tiga hari pencarian sejak Minggu (19/2), sudah ada lima jasad yang berhasil ditemukan, di antaranya jenazah Ummamah (45), Septiana Rizki Alamsyah (10), Maesaroh (9), Nur Fajar Maulinda (9) dan Reska Lismanda (10). Sementara, tiga jasad korban lainnya yakni Rafi Saputra (6), Zahra Zalyanti (7), Dini Novianti (10) hingga kini masih dalam pencarian.
Jasad Nur Fajar Maulinda atau Ajay ditemukan sekitar pukul 06:00 di Kampung Gunungleutik, atau sekitar dua kilometer dari lokasi awal, tak jauh dari lokasi penemuan jasad Ummamah. Jasad siswi kelas lima MI itu ditemukan pertama kali oleh warga sekitar, Rohdi (37) yang saat itu hendak mandi.
Saat ditemukan, bocah berperawakan gempal semasa hidupnya itu sudah membengkak dan penuh luka di beberapa anggota tubuh. “Saya mau mandi di Kali Cihideung. Saya lihat kayak ada boneka mengambang nyangkut di batu. Pas saya lihat, ternyata mayat anak kecil. Saya tidak jadi mandi dan langsung panggil warga,” tutur Rohdi, kemarin.
Setelah dievakuasi, jenazah Ajay dibawa ke RSUD Leuwiliang untuk keperluan otopsi. Rusaknya jenazah membuat tim forensik kesulitan untuk menentukan identitas Ajay. Baru setelah tiga jam diotopsi, tim forensik RSUD Leuwiliang meyakini kalau jenazah tersebut adalah Ajay.
Namun, keputusan tersebut sempat ditolak keluarga Ajay. Pasalnya, keluarga tidak yakin kalau jasad tersebut adalah Ajay, melainkan jenazah Zahra Zalyanti.
“Keputusan otentik dari RSUD Leuwiliang menyebutkan bahwa jasad tersebut merupakan jenazah Nur Fajar Maulinda,” ungkap Ketua RW 02, Desa Cibanteng, Abidin, kepada Radar Bogor, kemarin.
Kendati belum sreg dengan keputusan tim forensik, keluarga Ajay tetap melangsungkan pemakaman. “Saya yakin itu bukan anak saya. Kalau badan sama muka mah wajar udah berubah. Tapi tinggi sama rambut mah beda. Anak saya rambutnya panjang, tapi yang dikubur tadi kok pendek,” ungkap ibu kandung Nur Fajar Maulinda, Wiwi Winarti (35) didampingi sang suami, Kosasih (43), kemarin.
Kendati timbul pro dan kontra mengenai identitas jenazah, proses pemakaman tetap dijalankan sekitar pukul 12:00. Jenazah yang diyakini adalah Nur Fajar Maulinda itu dimakamkan di TPU Kampung Pabuaran, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea.
Kemudian, sekitar pukul 12:00, Tim SAR Gabungan kembali berhasil menemukan satu jasad korban lainnya di sekitar Jembatan Rancabungur, Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, atau sekitar 3,5 kilometer dari lokasi awal. Setelah diidentifikasi, jasad tersebut diyakini adalah Reska Lismanda. Saat ditemukan pertama kali oleh anggota Tim SAR, Reska yang berbalut kaus kuning ditutup sweater berbahan jeans dengan kondisi tubuh sudah membengkak. Selain itu, petugas menemukan luka menganga di bagian kepala, dan di bagian bibir juga terlihat bekas luka dan darah. Selanjutnya, petugas membawa jenazah korban ke RSUD Leuwiliang untuk keperluan otopsi.
Jasad Eka sebenarnya juga menuai kontra dari pihak keluarga. “Saya yakin itu bukan adik saya, makanya saya telepon ibu dan bapak saya,” ungkap kakak kandung Eka, Siska (22) saat ditemui di RSUD Leuwiliang, kemarin.
Hal senada diungkapkan kedua orangtua kandung Reska Maulinda. Mereka mengklaim bahwa itu bukan anaknya. “Itu bukan anak saya. Pakaian yang dipakai bukan itu,” ungkap ibu kandung Reska, Siti Aminah (40) didampingi sang suami, Sulaeman (47).
Titik terang akhirnya diperoleh. Sekitar pukul 15:30, dari identifikasi jenazah, ditemukan adanya gelang perak di tangan jasad yang diyakini dipakai Reska. Akhirnya, pihak keluarga yang semula keukeuh menyangkal, berubah yakin bahwa itu benar-benar jasad Eka. Prosesi pemakaman jenazah dilakukan sekitar pukul 16:00, dihadiri ratusan warga sekitar. Eka disemayamkan di TPU Kampung Pabuaran, Desa Cibanteng, Ciampea.
Dengan telah dikuburkannya dua jasad korban kemarin, tercatat sudah lima korban yang ditemukan dan disemayamkan. “Hasil pencarian hari ketiga, tim berhasil menemukan dua jasad lagi yaitu atas nama Nur Fajar Maulinda dan Reska Lismanda. Sementara, pencarian dihentikan dan besok kita lanjutkan lagi hingga kawasan Tangerang untuk mencari tiga jasad yang belum ketemu,” ungkap Koordinator Tim SAR, Budi Aksomo saat dikonfirmasi Radar Bogor, petang kemarin
Pencarian pada hari ketiga kemarin dilakukan dengan sistem yang sama seperti hari sebelumnya, yakni menyisir sungai secara manual. Hal ini tak lain disebabkan karena arus dan medan sungai yang cukup deras dan curam. Selain itu, di dalam sungai terdapat palung dan batu-batuan yang cukup terjal. Sementara, personel tim hanya berbekal perahu dan alat selam.
Tak jauh berbeda dengan pencarian hari kedua, Tim SAR Gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Basarnas, Tagana, PMI, Polmas, TNI, Polri, Damkar, berbagai ormas serta organisasi mahasiswa pecinta alam dan warga sekitar kembali menyisir Sungai Cihideung hingga muara Sungai Cisadane, yakni di sekitar kawasan Kabupaten Tangerang Selatan.
Jumlah personel yang terjun mengalami penambahan. Tidak kurang dari 500 anggota disebar dari Sungai Cihideung hingga muara Sungai Cisadane sejak pukul 08:00. “Hari ini kita menyisir Cisadane hingga ke wilayah Tangerang. Karena, tadi malam, satu jenazah kita temukan di sekitar Bendungan Pintu 10 Cisadane, Cikupa, Tangerang,” beber Budi Aksomo kepada Radar Bogor, kemarin. (yus/cr5/ful)
Baca Selanjutnya ...
Minggu, 19 Februari 2012
Pencarian Korban Jembatan Ciampea Dihentikan Sementara
Pencarian tujuh orang yang hanyut akibat ambruknya Jembatan Bambu Sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, dihentikan sementara. Hal itu disebabkan karena cuaca buruk.
"Untuk sementara pencarian korban hilang sudah dihentikan, karena kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian," kata petugas piket Polsek Ciampea, Bripka Ateng, kepada detikcom, Minggu (19/2/2012).
Hingga saat ini, hasil pencarian menemukan satu korban tewas atas nama Umamah (35), warga kampung Pabuaran Rt 1 Rw 3 Desa Cibanteng, Ciampea. Jenazahnya dibawa ke RS Leuwiliang Bogor.
Tim SAR gabungan yang diturunkan pada pencarian ini sebanyak 98 orang. Mereka melakukan penyisiran dari tempat runtuhnya jembatan hingga 15 Km ke arah hilir.
"Pencarian akan dilanjutkan besok pagi," tutur Ateng.
Seperti diketahui jembatan bambu di Sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, Jabar, ambruk pada pukul 10.00 WIB, Minggu (19/2/2012). 15 orang hanyut, satu orang tewas dan tujuh orang selamat. Sementara tujuh orang lainnya masih belum ditemukan.
Tujuh korban yang hanyut akibat ambruknya Jembatan Bambu Sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, adalah anak-anak. Hingga saat ini, ketujuh korban tersebut belum ada yang ditemukan.
"Sebagian besar korban adalah anak-anak yang menyeberangi jembatan bambu," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam rilisnya kepada detikcom, Minggu (19/2/2012).
(fjp/fjp)
Baca Selanjutnya ...
"Untuk sementara pencarian korban hilang sudah dihentikan, karena kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan pencarian," kata petugas piket Polsek Ciampea, Bripka Ateng, kepada detikcom, Minggu (19/2/2012).
Hingga saat ini, hasil pencarian menemukan satu korban tewas atas nama Umamah (35), warga kampung Pabuaran Rt 1 Rw 3 Desa Cibanteng, Ciampea. Jenazahnya dibawa ke RS Leuwiliang Bogor.
Tim SAR gabungan yang diturunkan pada pencarian ini sebanyak 98 orang. Mereka melakukan penyisiran dari tempat runtuhnya jembatan hingga 15 Km ke arah hilir.
"Pencarian akan dilanjutkan besok pagi," tutur Ateng.
Seperti diketahui jembatan bambu di Sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, Jabar, ambruk pada pukul 10.00 WIB, Minggu (19/2/2012). 15 orang hanyut, satu orang tewas dan tujuh orang selamat. Sementara tujuh orang lainnya masih belum ditemukan.
Tujuh korban yang hanyut akibat ambruknya Jembatan Bambu Sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, adalah anak-anak. Hingga saat ini, ketujuh korban tersebut belum ada yang ditemukan.
"Sebagian besar korban adalah anak-anak yang menyeberangi jembatan bambu," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam rilisnya kepada detikcom, Minggu (19/2/2012).
(fjp/fjp)
Baca Selanjutnya ...
Jembatan Ciampea Ambruk, 16 Orang Hanyut, Satu Tewas
Jembatan bambu di sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, Jabar, ambruk saat dilintasi sejumlah orang. 16 orang yang hanyut, satu diantaraya tewas dan 7 selamat. Sementara 8 orang lainnya masih dicari.
Kanit Reskrim Polsek Ciampea AKP Dali Saputra menyatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, Minggu (19/2/2012). Para korban baru saja pulang pengajian di Kampus Darmaga. Begitu jembatan ambruk, korban langsung terseret arus.
"Arus sungai memang deras, jadi korban langsung terseret," katanya kepada detikcom melalui telepon.
Korban tewas atas nama Umama. Tubuhnya lebam. Diperkirakan karena benturan benda keras. Jenasahnya dibawa ke RS Leuwiliang Bogor. Sementara, 7 korban yang selamat telah kembali ke rumahnya.
Dali menambahkan, saat ini pihaknya masih mencari 8 korban lainnya dengan dengan menggunakan beberapa perahu. Satuan Penanggulangan Bencana (Tagana) BPBD Bogor dan polisi menyisir sungai dalam radius 1 Km.
"Kemungkinan, jembatan tidak kuat menahan beban. Bahannya kan bambu," kata Dali menduga penyebab ambruknya jembatan tersebut.
Baca Selanjutnya ...
Kanit Reskrim Polsek Ciampea AKP Dali Saputra menyatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, Minggu (19/2/2012). Para korban baru saja pulang pengajian di Kampus Darmaga. Begitu jembatan ambruk, korban langsung terseret arus.
"Arus sungai memang deras, jadi korban langsung terseret," katanya kepada detikcom melalui telepon.
Korban tewas atas nama Umama. Tubuhnya lebam. Diperkirakan karena benturan benda keras. Jenasahnya dibawa ke RS Leuwiliang Bogor. Sementara, 7 korban yang selamat telah kembali ke rumahnya.
Dali menambahkan, saat ini pihaknya masih mencari 8 korban lainnya dengan dengan menggunakan beberapa perahu. Satuan Penanggulangan Bencana (Tagana) BPBD Bogor dan polisi menyisir sungai dalam radius 1 Km.
"Kemungkinan, jembatan tidak kuat menahan beban. Bahannya kan bambu," kata Dali menduga penyebab ambruknya jembatan tersebut.
Baca Selanjutnya ...
Senin, 16 Januari 2012
Bendung Katulampa Siaga 4

Hujan yang mengguyur wilayah Bogor, Jawa Barat serta kawasan Puncak dan sekitarnya sejak Kamis malam hingga Jumat (13/1)pagi, mengakibatkan ketinggian air di Bendung Katulampa Bogor naik hingga 60 cm.Posisi ini, membuat penjaga Bendung Katulampa menetapkan siaga 4.“Ketinggian akan naik, karena kiriman air hujan dari Puncak subuh hingga pukul 09.00 belum tiba di sini. Jika terus hujan, maka ketinggian air Katulampa akan berhgerak naik,” kata Andi Yudirman, penjaga air Katulampa dilokasi.
Menurutnya, ada 13 anak sungai dikawasan puncak yang selama ini mensuplai air ke kawasan Katulampa yang berpotensi statusnya terus berubah, tergantung skala hujan,” paparnya.
Pantauan di lapangan, hingga pukul 09.00 WIB, ketinggian air sudah mencapai 60 cm. Ketinggian air tersebut, diperkirakan masih akan naik, karena, hingga saat ini, wilayah Bogor dan sekitarnya masih diguyur hujan.
“Ketinggian air mencapai 60 centimeter sejak 8.20 sudah bergerak ke angka 60 dari sebelumnya 20Cm,” ungkap Andi sambil menambahkan, ini debit air tertinggi di tahun 2012. (yopi/b)
sumber : beritabogor.com
Baca Selanjutnya ...
Senin, 15 Agustus 2011
Kondisi gunung Gede , dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Berdasarkan hasil laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan
Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai Surat
Nomor : 06/42.02/BGV.P.GDE/2011 Tanggal 1 Juli 2011 perihal Laporan
Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Juni kegiatan Gunung
Gede dalam keadaan normal. Kondisi normal Gunung Gede tersebut dapat
terdeteksi dari keadaan visual, kegiatan Gunungapi itu sendiri dan kondisi
kegempaannya, yang tergambar sebagai berikut :
Keadaan Visual
Cuaca di sekitar pos pengamatan dalam bulan ini, umumnya cerah dan berawan
pada pagi hari, siang hari cerah dan berawan sedang sore hari cuaca cerah,
berawab dan sesekali turun hujan
Hujan yang tercatat sebanyak 14 kali, hujan gerimis sampai lebat
Hembusan angin umumnya tenang, dan kadang bertiup lemah dari arah tenggara
dan barat laut
Suhu udara tercatat maksimum 22,5 0C dan Minimum 19 0C
Keadaan Kegiatan Gunungapi
Kegiatan yang dapat diamati dari pos pengamatan, tidak menunjukkan suatu
perubahan permukaan yang mencolok
Puncak gunung gede sering terlihat jelas pada waktu pagi hari dan tidak
terlihat kepulan asap di atas kawahnya. Pada siang sampai sore hari sering
tertutup kabut
Pemantauan lain visual yang terkait erat hubungannya dengan aktivitas
vulkanik gunung gede tidak ada
Kegempaan
Pada Pesawat radio telemetri seismograf PS-2 terlihat beroperasi normal dan
merekam gempa sejumlah 120 kali terdiri dari : 9x gempa vulkanik A, 96x
gempa tektonik jauh, 15x gempa tektonik lokal
Sehingga status kegiatan Gunung Gede dapat disimpulkan masih dalam keadaan
NORMAL.
[ teks © TNGGP 072011 | ME - red ]
Baca Selanjutnya ...
Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan
Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai Surat
Nomor : 06/42.02/BGV.P.GDE/2011 Tanggal 1 Juli 2011 perihal Laporan
Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Juni kegiatan Gunung
Gede dalam keadaan normal. Kondisi normal Gunung Gede tersebut dapat
terdeteksi dari keadaan visual, kegiatan Gunungapi itu sendiri dan kondisi
kegempaannya, yang tergambar sebagai berikut :
Keadaan Visual
Cuaca di sekitar pos pengamatan dalam bulan ini, umumnya cerah dan berawan
pada pagi hari, siang hari cerah dan berawan sedang sore hari cuaca cerah,
berawab dan sesekali turun hujan
Hujan yang tercatat sebanyak 14 kali, hujan gerimis sampai lebat
Hembusan angin umumnya tenang, dan kadang bertiup lemah dari arah tenggara
dan barat laut
Suhu udara tercatat maksimum 22,5 0C dan Minimum 19 0C
Keadaan Kegiatan Gunungapi
Kegiatan yang dapat diamati dari pos pengamatan, tidak menunjukkan suatu
perubahan permukaan yang mencolok
Puncak gunung gede sering terlihat jelas pada waktu pagi hari dan tidak
terlihat kepulan asap di atas kawahnya. Pada siang sampai sore hari sering
tertutup kabut
Pemantauan lain visual yang terkait erat hubungannya dengan aktivitas
vulkanik gunung gede tidak ada
Kegempaan
Pada Pesawat radio telemetri seismograf PS-2 terlihat beroperasi normal dan
merekam gempa sejumlah 120 kali terdiri dari : 9x gempa vulkanik A, 96x
gempa tektonik jauh, 15x gempa tektonik lokal
Sehingga status kegiatan Gunung Gede dapat disimpulkan masih dalam keadaan
NORMAL.
[ teks © TNGGP 072011 | ME - red ]
Langganan:
Postingan (Atom)


